Jejak Tulisan Kaki Kecil

Cerita Misteri: Luka, Bagian Empat

Konten [Tampil]
Pertemuan Rania dan Kinan membuatnya kembali mengenang masa kecilnya yang cukup kelam. Rania pun berusaha untuk meminta Kinan dan anak-anak jalanan datang dan tinggal di panti asuhan. Sayangnya Kinan keberatan dengan permintaan Rania tersebut.

Bagian Empat: Permintaan Rania
"Aku cuma minta kalian tinggal di panti asuhan, Kinan. Aku nggak akan begitu saja memberikan mereka kepada orang tua asuh jika memang kamu keberatan," kataku menjelaskan pada Kinan.

"Aku nggak mau ke panti asuhan. Aku lebih baik tinggal di jalanan saja. Kalau anak-anak itu mau, silahkan saja kamu bawa mereka," kata Kinan kepadaku.

"Mereka telah menganggapmu kakak. Apa mereka tega meninggalkanmu sendiri hidup di jalanan?" tanyaku pada Kinan.

Kinan terdiam tak menjawab pertanyaanku. Aku memang hanya ingin mengajak mereka tinggal di panti asuhan saja. Tak lebih. Mungkin Kinan salah mengartikan permintaanku.

"Kamu pertimbangkan baik-baik saja dulu Kinan. Kasian mereka yang masih kecil jika harus selalu tinggal di jalanan dan perpindah-pindah. Apalagi jika hujan dan petugas datang. Tolong Kinan, pertimbangankan permintaanku sekali ini saja," kataku memohon.

Kinan tak mengubris permintaanku dan pergi dengan raut muka kecewa. Aku tak tahu kenapa Kinan begitu membenci panti asuhan. Aku tak pernah menanyakan latar belakang Kinan. Bahkan tentang wajahnya yang terdapat luka cukup parah.

Mungkin masa kecil Kinan lebih menyakitkan dibandingkan masa kecilku dulu. Aku tak pernah bisa memaksakan permintaanku itu. Perasaanku menjadi campur aduk. Marah, kecewa, sedih.

Penolakan Kinan cukup membuat hubungan kita menjadi renggang. Kinan semakin membuat benteng yang tinggi seolah membuat jarak antara aku dan dia. Jarak yang tak pernah dia berikan kepadaku untuk mengenalnya lebih dekat. 

Aku pun menceritakan penolakan Kinan tersebut kepada ibu. Ibu hanya memintaku untuk memahami perasaan Kinan. Perasaan yang disimpan rapat tanpa aku tau alasannya.

***

Beberapa minggu terakhir, panti menjadi semakin sepi. Hanya tersisa beberapa anak saja yang menunggu dijemput oleh orang tua asuh mereka. Sayang ada hal yang tak pernah diduga sebelumnya. Kehebohan tentang  anak panti yang hilang satu per satu menjadi tanda tanya besar bagiku dan ibu panti. 

Mereka yang selalu menunggu momen ini, tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Satu per satu dari mereka pergi dan aku hanya bisa mencari. Usahaku dan ibu panti pun sia-sia, bahkan warga sekitar tak ada yang melihat mereka.

Aku yang kebingungan pun mencoba meminta tolong bantuan Kinan.

"Kinan, aku mohon, bantu aku mencari mereka," kataku pada Kinan.

"Mereka mungkin takut datang ke orang asing. Kalian terlalu memaksakan mereka untuk diadopsi. Biarkan saja mereka pergi dan menemukan kebahagiaan mereka sendiri," kata Kinan seolah tak peduli.

"Apa kamu tak khawatir jika anak-anak jalanan yang bersamamu menghilang?" tanyaku pada Kinan.

"Untuk apa mereka menghilang? Mereka akan tetap bersamaku. Aku tak pernah memaksakan mereka pergi," kata Kinan kembali.

Aku menghela napas. Percuma saja berdebat dengan Kinan. Keinginannya yang kuat tak mudah digoyahkan. Aku mengalah dan pergi dengan kekecewaan yang semakin mendalam kepada Kinan. Aku pikir Kinan bisa menjadi pengganti Riana. Umurku dan Kinan yang tak jauh beda selalu menganggapnya teman sekaligus sahabat selama ini. Sayang Kinan tak pergi menganggapku lebih dari orang yang membantu mengajarkan adik-adiknya. Luka kehilangan itu kembali tergores di hatiku. Luka yang semakin dalam dan terbuka semakin lebar. 
Zakia Widayanti
Seorang yang mengaku introver dan menjadikan tulisan sebagai jalan ninja agar tetap waras. Tulisan adalah caraku menyampaikan keresahan dan kegelisahan. Terkadang semakin banyak menulis bisa jadi tanda jika aku sedang galau atau sedih atau mungkin banyak deadline :)

Related Posts

Posting Komentar