Jejak Tulisan Kaki Kecil

Sapardi Djoko Damono, Pujangga yang Dikenal Lewat Karya

5 komentar
Konten [Tampil]
Sapardi Djoko Damono seorang sastrawan yang aku kenal lewat film Hujan Bulan Juni. Kalau nggak ada film itu mungkin aku nggak kenal siapa itu Sapardi. Keterlaluan banget deh ya aku, katanya mau jadi penulis atau blogger, masa sastrawan lama yang cukup terkenal itu aku nggak tau.

Berkat ODOP, aku akan mencoba mengenal lebih jauh siapa itu Sapardi. Nama yang dijadikan nama grup kecilku. Jadilah aku memiliki kewajiban untuk mengenalnya. Sebuah nama yang tak hanya tersemat di bagian atas grup whatsapp tetapi memiliki arti yang pastinya lebih dalam. Mengajak untuk kita lebih semangat melahirkan karya yang bermanfaat seperti beliau.

Mengenal Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono terkenal sebagai pujangga karena puisinya yang sederhana tetapi memiliki makna yang dalam. Beliau juga dikenal dengan sebutan SDD yang berasal dari singkatan namanya. Lelaki yang lahir pada 20 Maret 1940 merupakan anak pertama pasangan dari Sadyoko dan Saparian. Sapardi kecil hidup di sebuah desa bernama Ngadijayan yang terletak di Solo.

Kedua orang tua Sapardi ternyata tak memiliki darah seniman. Darah seniman yang mengalir di darah Sapardi berasal dari kakeknya yang menjadi abdi dalem. Kakeknya memiliki tugas sebagai dalang dan penatah wayang di Keraton Surakarta.

Setelah dewasa, SDD menikah dengan Wardiningsih, adik kelasnya yang berasal dari Jawa. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua orang anak. Seorang putri bernama Rasti Sunyandari dan seorang putra bernama Rizki Henriko.

SDD meninggal dunia ketika dunia sedang mengalami pandemi. Ditengah banyaknya cerita tentang kesedihan, dunia literasi pun harus kehilangan sang pujangga pada 19 Juli 2020. SDD sempat di rawat di RS Eka BSD akibat penurunan fungsi organ tubuhnya. Pada akhirnya Sang Pemilik Raga memilih agar sang punggga beristirahat dari dunia dan tetap dikenang melalui karyanya.

Pendidikan

Sapardi kecil memulai mengeyam pendidikan di Sekolah Rakyat Kraton "Kasatriyan", Baluwarti, Solo. Lalu melanjutkan menempuh pendidikan di SMP Negeri 2 Surakarta (lulus tahun 1955) dan SMA Negeri 2 Surakarta (lulus tahun 1958).

Setelah lulus, SDD kuliah dengan mengambil Jurusan Sastra Inggris di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, UGM Jogja. Sapardi sempat menempuh studi di University of Hawaii, Honolulu. Kemudian menempuh program doktor di Fakulutas Sastra UI dan lulus tahun 1989.

Karir

Karirnya di dunia literasi sudah dimulai sejak masih mengeyam pendidikan. Sapardi yang masih muda itu, sudah mulai menulis dan mengirimkan karya ke beberapa majalah. Setelah lulus dari UGM tahun 1964, Sapardi sempat menganjar di Fakultas Keguruan dan Seni di IKIP Malang.

Tahun 1974, Sapardi bekerja sebagai direktur pelaksana Yayasan Indonesia sekaligus mengajar di Fakultas Sastra UI. Pada tahun 1995-1999, Sapardi dipercaya sebagai Dekan Fakultas Sastra UI dan juga redaktur dari beberapa majalah. Dari majalah Pembinaan Bahasa Indonesia hingga Majalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia. Keren banget ya? Bisa memiliki berbagai peran dalam satu waktu.

SDD benar-benar hidup di sekitar dunia literasi. Bahkan setelah purna tugas tahun 2005, Sapardi masih mengajar di Sekolah Pascasarjana IKJ. Masa tuanya itupun masih diisi dengan tetap menghasilkan karya fiksi dan non fiksi.

Karya

Salah satu karya SDD yang cukup familiar ditelingaku adalah puisi dengan judul aku ingin. Kalau mendengar judulnya aja si rasanya asing. Namun kalau membaca akan langsung terasa sangat familiar. Entah aku pernah membacanya saat pelajaran bahasa indonesia atau saat membaca undangan. Katanya puisi ini tuh cukup menyetuh dan tak jarang digunakan bagi pasangan yang akan menggenap.

Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(Sapardi Djoko Damono)

Gimana, familiar nggak si? Apa malah merasakan asing?

SDD cukup banyak menggoreskan banyak karya selama hidupnya. Tak hanya puisi tetapi ada juga karya fiksi dan non fiksi. Karya tuh setiap detik dalam hidupnya selalu melahirkan karya baru ya? Karya yang memacu kita agar meninggalkan jejak agar selalu dikenang walaupun raga tak ada lagi di dunia ini. 

Beberapa Karya Sapardi Djoko Damono

Puisi

Fiksi

Non Fiksi

Duka-Mu Abadi (1969)

Mata Pisau (1974)

Perahu Kertas (1983)

Sihir Hujan (1983)

Arloji (1987)

Hujan Bulan Juni: Pilihan Sajak (1994)

Ayat-Ayat Api (2000)

Mata Jendela (2001)

Namaku Sita (2012)

Pengarang Telah Mati (2001)

Membunuh Orang Gila (2003)

Trilogi Soekram (2015)

Hujan Bulan Juni (2015)

Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978)

Politik Ideologi dan Sastra Hibrida (1999)

Priayi Abangan: Dunia Novel Jawa 1950 (2000)

Pegangan Penelitian Sastra Bandingan (2005)

Bilang Begini, Maksudnya Begitu (2014)

Alih Wahana (2013)

Kebudayaan (Populer) (di Sekitar) Kita (2011)

Tirani Demokrasi (2014)


Penutup

Mengenal pujangga yang sudah lama berkiprah di dunia literasi rasanya penting bagi kita yang ingin terjun ke dalamnya. Tak sopan rasanya jika mengaku sebagai penulis tetapi tak kenal pendahulu kita. Dari Sapardi aku belajar banyak. Puisi yang sederhana tetapi meninggalkan kesan yang cukup mendalam. Menjadi saksi bagi generasi selanjutnya, jika pernah ada kehidupan sang pujanga bernama Sapardi Djoko Damono.

Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri.
(Sapardi Djoko Damono)
Zakia Widayanti
Seorang yang mengaku introver dan menjadikan tulisan sebagai jalan ninja agar tetap waras. Tulisan adalah caraku menyampaikan keresahan dan kegelisahan. Terkadang semakin banyak menulis bisa jadi tanda jika aku sedang galau atau sedih atau mungkin banyak deadline :)

Related Posts

5 komentar

  1. Dulu saaat SMP tahun 85 an, murid murid menghafal para pujangga dan penulis penulis yang sudah punya nama. Memang penting mengetahui sastrawan Indonesia dan mengenal karya karya mereka, salah satunya Sapardi Joko Damono. Terima kasih sharingnya, salam sehat.

    BalasHapus
  2. puisi yang judulnya "Aku ingin" dari eang Sapardi ini memang masyur banget ya mba..duh aku sejak ikut ODOP ini aja baru tahu detail tentang penulisnya.

    BalasHapus
  3. Puisi Aku ingin itu, jadi salah satu lampiran pas aku bikin undangan nikah online hehehe

    BalasHapus
  4. Sajak eyang selalu ada dalam soal Bahasa Indonesia, aku ingin mencintaimu dengan sederhana~

    BalasHapus

Posting Komentar