Jejak Tulisan Kaki Kecil

4 Hal yang Harus Diingat Ketika Merayakan Idul Fitri

Konten [Tampil]
Merayakan Idul Fitri

Tak terasa tinggal sebentar lagi kita akan merayakan Idul Fitri. Meninggalkan bulan Ramadan yang begitu istimewa ini. Sedih ya jika kita paham akan bagaimana istimewanya Bulan Ramadan. Rasanya akan kehilangan dan berdoa agar bisa bertemu dengan Ramadan selanjutnya. Namun, bagi yang tidak memahaminya akan merasa senang karena tak harus lagi berpuasa.

Merayakan Idul Fitri

Idul Fitri dikenal sebagai hari kemenangan. Hari rayanya umat muslim. Hari yang banyak dinanti oleh umat muslim. Bahkan kita diharamkan berpuasa pada hari ini. Namun, ada 4 hal yang tetap diingat karena sering diabaikan oleh orang. Apa aja si itu?

1. Pakaian Terbaik

Baju baru Alhamdulillah
Tuk dipakai di hari raya
Tak punya pun tak apa-apa
Masih ada baju yang lama

Auto nyanyi nggak waktu baca? Dari lagu itu kita belajar tak harus menggunakan pakaian yang baru ketika lebaran. Namun, tidak memiliki pakaian yang baru bukan berarti menggunakan pakaian apa adanya. Sebisa mungkin kita menyiapkan pakaian khusus dan terbaik menurut kita setiap kali lebaran.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki jubah khusus yang beliau gunakan untuk Idul Fitri dan Idul Adha, juga untuk digunakan pada hari Jum’at.”
(HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya, 1765)

Dalam sebuah hadist, Rasulullah pun dijelaskan memiliki jubah khusus untuk digunakan di waktu istimewa. Jubah yang selalu dipakai ketika lebaran bahkan setiap hari jumat. Sehingga jangan sampai kita memaksakan untuk memiliki pakaian baru setiap kali lebaran. Setidaknya kita memiliki pakaian khusus yang bisa digunakan.

Apalagi melihat berita tentang ramainya keadaan di tanah abang kemarin. Menjelang 10 hari terakhir bukannya orang beramai-ramai memenuhi masjid untuk i'tikaf. Yang terjadi malah memenuhi tempat perbelanjaan demi tampil menggunakan pakaian baru di hari raya.

Bukannya tak boleh. Sebiasa mungkin ketika membeli pakaian baru dilakukan sebelum ramadan datang agar tak mengganggu ibadah kita saat ramadan. Atau di saat yang serba digital seperti ini kita bisa membelinya secara online sehingga tak harus mengurangi waktu ibadah. Dan juga bisa mengurangi interaksi dengan orang saat pandemi.

membeli pakaian baru

Dari postingan akun instagram sustaination ini bisa jadi pertimbangan tentang membeli pakaian baru untuk lebaran. Dimulai dari pertanyaan baju lebaran yang lama apakah masih layak hingga apakah ada budget untuk membelinya. Jangan sampai demi tampilan serba baru di hari raya menjadikan kita harus berhutang ya!

2. Makan Secukupnya

Setelah kita puasa selama 30 hari penuh, maka saat lebaran adalah hari dimana kita diharamkan puasa. Diharamkan tersebut bukan berarti kita bisa bebas makan sepuasnya hingga terlalu kenyang dan tak bisa melakukan aktivitas. Sebisa mungkin kita menjaga agar makan secukupnya.

Dari Abu Sa’id Al Khudri –radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengatakan,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada dua hari yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.”
(HR. Muslim no. 1138)

Adanya tradisi mengunjungi sanak saudara selama lebaran dan terdapat banyak makanan jangan sampai membuat kita terlena. Menikmati semua hidangan yang ada setiap kali berkunjung ke rumah-rumah mungkin dimaksudkan agar terlihat sopan dengan tuan rumah. Namun, sangat disayangkan jika tidak menyadari batas kesanggupan kita untuk makan dan membuang makanan tersebut.

Jadi jangan sampai kegiatan berkunjung ke rumah-rumah membuat kita kalap akan makanan. Menikmati tanpa sadar jika diri kita kekenyangan. Apalagi sampai merasakan perut terasa penuh dan malas untuk bergerak.

“Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.“

Hadist tentang makan tersebut memang dhaif tetapi kita bisa menjadikannya pelajaran karena maknanya benar. Makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang akan tetap bisa melakukan silaturahmi di saat hari raya.

Walaupun kebiasaan silaturahmi dibatasi saat pandemi seperti ini, kita bisa melakukannya melalui online. Tak ada alasan untuk tidak melakukan silaturahmi karena kita hidup di era digital. Bahkan kita bisa juga mengirim parcel lebaran agar tetap terasa kehadirannya.

3. Kenali Mahram

Hari raya biasanya dijadikan waktu untuk berkumpul dengan keluarga besar atau saling mengunjungi kerabat. Saatnya kita bersilaturahmi dan memohon maaf tentang kesalahan kita. Namun perlu diingat jika saat bertemu kita harus mengetahui mana mahram kita dan mana yang bukan. Hal tersebut untuk menghindari bersentuhan saat jabat tangan.

“Jika wanita mukminah berhijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka diuji dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina ….” (QS. Al Mumtahanah: 12). ‘Aisyah pun berkata, “Siapa saja wanita mukminah yang mengikrarkan hal ini, maka ia berarti telah diuji.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri berkata ketika para wanita mukminah mengikrarkan yang demikian, “Kalian bisa pergi karena aku sudah membaiat kalian”. Namun -demi Allah- beliau sama sekali tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita pun. Beliau hanya membaiat para wanita dengan ucapan beliau. ‘Aisyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menyentuh wanita sama sekali sebagaimana yang Allah perintahkan. Tangan beliau tidaklah pernah menyentuh tangan mereka. Ketika baiat, beliau hanya membaiat melalui ucapan dengan berkata, “Aku telah membaiat kalian.”
(HR. Muslim no. 1866)

Dari hadist di atas kita belajar jika Rasulullah tidak menyentuh saat membaiat. Cukup melakukannya dengan ucapan maka hal tersebut selesai. Perilaku Rasulullah itu bisa jadi pelajaran bagi kita saat bersilaturahmi saat lebaran nanti. Tak harus meminta maaf dengan bersentuhan jika bukan mahram, dengan mengucapkannya saja cukup.

mahram dan bukan mahram

Jadi jangan sampainya kita tidak bisa membedakan mana mahram dan mana yang bukan mahram. Walaupun di zaman sekarang semua terlihat abu-abu tanpa batas. Menghilangkan rasa tak enak karena takut dianggap tak sopan demi menghindari dosa yang menanti. Setidaknya kita bisa mencobanya walaupun sangat mungkin banyak omongan tak nyaman di sana.

Teringat obrolan temanku yang membicarakan tentang perempuan yang tak mau disentuh oleh laki-laki ketika berjabat tangan. Rasanya sedih tetapi mau gimana lagi. Mungkin dia belum paham akan hal itu dan juga dosa yang menantinya. Semoga akan semakin banyak orang yang sadar akan hal ini. Agar kita bisa menjalankan apa yang diajarkan oleh Rasulullah.

4. Konsisten Ibadah Wajib

Bulan Ramadan dijadikan umat muslim sebagai bulan berlomba-lomba melakukan ibadah. Melakukan yang terbaik dan konsisten sesuai kemampuan masing-masing. Apa yang dilakukan kita selama ramadan itu jangan sampai hilang dalam sekejap karena lebaran.

Salat

Melakukan tradisi silaturahmi di saat lebaran jangan sampai menjadikan kita melupakan ibadah apalagi sholat wajib. Kita harus tetap menyempatkan waktunya dan melakukannya di awal waktu. Bahkan sebisa mungkin tetap meramaikan masjid. Jangan sampai saat lebaran masjid menjadi kosong karena kita sibuk silaturahmi.

Silaturahmi memang baik tetapi tetap konsisten ya menjalankan ibadah wajibnya. Karena ibadah tersebut cara kita berkomunikasi dengan Allah, sedangkan silaturahmi adalah interaksi kita dengan sesama manusia. Jangan sampai interaksi dengan manusia membuat kita lupa untuk berinteraksi dengan Allah.

Merayakan Idul Fitri memang menyenangkan tetapi ada hal-hal yang perlu diingat. Agar kita tetap merasakan keberkahan saat lebaran. Menurut kalian apakah ada hal yang perlu diingat lagi dan mungkin sering dilupakan orang saat lebaran?
Zakia Widayanti
Seorang yang mengaku introver dan menjadikan tulisan sebagai jalan ninja agar tetap waras. Tulisan adalah caraku menyampaikan keresahan dan kegelisahan. Terkadang semakin banyak menulis bisa jadi tanda jika aku sedang galau atau sedih atau mungkin banyak deadline :)

Related Posts

11 komentar

  1. Semenjak ada bayi, entah kenapa aku gak ada hasrat buat beli baju baru kak

    Yang tak pikirin malah beli baju anak sama suami, sama bawa kue buat berkunjung

    Begini kah kehidupan setelah beranak

    BalasHapus
  2. Poin poin penting nih. Dan yang kalah penting menjaga makanan. Biasanya kalau lebaran aku sndiri suka kalap makannya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang gak kalah penting maksudnya. Saking semangat sampe salah nulis.

      Hapus
    2. bener mbak.. habis puasa sebulan trus ketemu beraneka macam makanan, tuh rasanya pengen semua-semua dimakan... hehehe... upss.. (astaghfirullah)

      Hapus
  3. Masyaallah... terima kasih mbak sudah diingatkan... ^_^

    BalasHapus

  4. Aku tuh kalo pulkam pas lebaran (sebelum pandemi) pake sarung tangan, jd aman. Karna kan kalo pas ketempat nenek & para bibi+paman tuh biasanya ruame2, kadang pas org2 ngulurin tangan refleks aja nyambut gt. Terus kepikiran pake sarung tangan aja. Sampe sekarang kalo pulkam & berkunjung kerumah nenek suka sarung tanganan hehe

    BalasHapus
  5. Makasi kak buat remindernyaa 😍 Apalagi poin 4, Melakukan tradisi silaturahmi di saat lebaran jangan sampai menjadikan kita melupakan ibadah apalagi sholat wajib.
    Jangan sampe lg asik2 silaturahmi, malah lupa sama ibadah wajib, bs ambyar segala pahala yg ditabung pas ramadhan ya 😆😆

    BalasHapus
  6. Aku juga biasanya membeli pakaian baru dilakukan sebelum ramadan, trauma Belanja pas Ramadan.. Sumpeek

    BalasHapus
  7. Urusan jabat menjabat tangan ini memang rada pelik mba. Ga mau jabat tangan nanti ada yg terluka. Kalau jabat tangan, dosa. Kata-kata pamungkasnya "udaaah.. Masa ga mau salaman ama keluarga sendiri"

    BalasHapus
  8. Banyak pe er buat aku dari poin-poin yang ditulis di atas, jabatan tangan sama makanan. semoga makin baik ke depannya, dan dipertemukan kembali dengan bulan suci ramadan

    BalasHapus
  9. Suka bgt sama ilustrasinya suistanation, tpi yg masih dianggap tabu tuh ketika ada orang bukan mahram mau ngajak salaman tpi kita tolak, untung pandemi jdi aman deh skrg

    BalasHapus

Posting Komentar