Jejak Tulisan Kaki Kecil

Novel Selamat Tinggal, Bukan Bacaan untuk si Galau

44 komentar
Review Novel Selamat Tinggal

Terel Liye kembali melahirkan sebuah karya di tahun ini, sebuah novel selamat tinggal. Cukup membuatku penasaran dan menunggu bisa memilikinya. Setiap kali sebuah buku karyanya terbit maka aku akan sibuk membahas bersama temanku dan saling pamer siapa duluan yang memilikinya.

Bukan Bacaan untuk si Galau

Ada salah satu hal yang sangat menggelitik ketika mengetahui kalau Selamat Tinggal tidak dianjurkan untuk dibaca orang yang patah hati atau si galau. Bahkan membuat temanku meledek agar aku tidak membacanya. Bukannya mengikuti peringatan tersebut, membuatku semakin penasaran untuk membacanya. Lagi pula siapa juga si yang patah hati kan? 

Jika kalian menebak jika novel ini tentang percintaan atau sejenisnya, mungkin kalian tidak salah tapi inti ceritanya bukan tentang itu. Memang sedikit ada bumbu percintaan, tapi cerita utama novel tersebut adalah tentang pembajakan. Jadi seharusnya novel ini tidak dianjurkan untuk para pembajak dan sejenisnya bukan? Bisa mengakibatkan muntah, mual, sakit hati atau penyakit lainnya. 

Tapi mungkin tak semudah itu para pembajak musnah dan merasakan efek dari novel itu. Siapa peduli? Toh yang dipikirkan hanya keuntungan pribadi, tanpa menggunakan hati nurani dan memikirkan multiplier effect yang terjadi. Mungkin kita harus berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik dan bisa mengatakan selamat tinggal pada hal-hal buruk. Agar lebih berdampak para pembajak sehingga tak terus berkembang biak.

Novel Selamat Tinggal Karya Tere Liye

Kita tidak sempurna. Kita mungkin punya keburukan, melakukan kesalahan, bahkan berbuat jahat, menyakiti orang lain. Tapi beruntunglah yang mau berubah. Berjanji tidak melakukannya lagi, memperbaiki, dan menebus kesalahan tersebut.

Mari tutup masa lalu yang kelam, mari membuka halaman yang baru. Jangan ragu-ragu. Jangan cemas. Tinggalkanlah kebodohan dan ketidakpedulian. "Selamat Tinggal" suka berbohong, "Selamat Tinggal" kecurangan, "Selamat Tinggal"sifat-sifat buruk lainnya.

Karena sejatinya, kita tahu persis apakah kita memang benar-benar bahagia, baik, dan jujur. Sungguh "Selamat Tinggal" kepalsuan hidup.

Selamat membaca novel ini. Dan jika kamu telah tiba di halaman terakhirnya, merasa novel ini menginspirasimu, maka kabarkan kepada teman, kerabat, keluarga lainnya. Semoga inspirasinya menyebar luas.

Selamat Tinggal

Judul : Selamat Tinggal
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2020, cetakan pertama
Tebal buku : 360 halaman
Harga : Rp85.000

***

Bercerita tentang seorang laki-laki bernama Sitong Tinggal. Dia adalah penjaga toko buku bajakan sekaligus mahasiswa fakultas sastra yang terancam DO dan tidak akan lulus.

"Dulu kamu mahasiswa paling cemerlang, Sitong. Tahun pertama dan keduamu di Fakultas Sastra ini spesial sekali. Tulisan-tulisanmu dimuat di koran nasional. Cerita pendekmu menakjubkan. Esai, artikel, resensi. Di usiamu yang masih muda, kamu seperti dahaga menulis. Menang banyak lomba, diundang dalam acara-acara sastra terkemuka. . . . ."
(halaman 27)

Bukan karena Sitong tak pandai, bahkan sejak tahun pertama duduk di bangku kuliah, tulisannya terbit di koran nasional. Baginya menulis skripsi harusnya menjadi hal yang mudah. Tapi entah mengapa semangat kuliahnya hilang segitu saja sejak tahun ketiga. Lebih tepatnya sejak pulang ke kampung halamannya.

"... 24 bulan, 104 minggu, ini setara dengan 52 surat yang pernah dikirimkan. Kue-kue dan makanan yang Mawar paketkan? Kenapa sekarang semua terlupakan? Layu begitu saja."
(halaman 45)

Berharap bisa berjumpa dan dijemput oleh gadis yang selalu menemaninya berkirim surat selama 2 tahun. Gadis bernama Mawar yang mengantarnya ketika akan merantau jauh ke luar pulau dan memberinya toples berisi kue. Sitong malah mendapatkan kenyataan jika Mawar memilik lelaki lain yang merupakan paribannya. Membuat semangat Sitong menulis hilang begitu saja bersama perasaannya yang hancur.

"......Ini buku dari seorang penulis yang dulu Bapak bilang hilang dalam catatan sejarah literasi nasional."
(halaman 25)

Semangat menulisnya kembali tumbuh diujung tahun ke tujuh. Ketika Sitong bertemu dengan seorang gadis bernama Jess dan menemukan harta karun berupa buku dari seorang penulis yang namanya hilang dalam catatan literasi nasional. Sitong meminta waktu kepada Dekan Fakultas Sastra sekaligus pembimbingnya agar diberikan kesempatan untuk menuliskan skripsi terkait Sutan Pane. Walaupun dirasa mustahil melakukannya, Pak Dekan tetap memberi Sitong kesempatan tersebut.

"Setelah menunggu seharian, ternyata Jess justru meneleponnya. . . . ."
(halaman 210)

Hari-hari Sitong pun lebih berwarna sejak berkenalan dengan Jess dan semakin akrab. Dari yang awalnya bertemu di toko buku bajakan yang dijaga Sitong, lalu menjadi mentor Jess dalam menulis dan menjadi dekat begitu saja. Sitong pun kembali aktif mengirimkan tulisan ke koran nasional. Tapi tak disangka tulisan itu dibaca oleh seseorang yang pernah mematahkan hati Sitong.

".... Jadi begini, tadi pagi, adik laki-laki Mawar meneleponku. Dia bilang, dia dapat telepon dari Mawar dipenjara. Mawar membaca tulisan kau di koran. Mawar ingin bertemu kau langsung. Dia ingin kau mendengar ceritanya."
(halaman 233)

Ketika hati Sitong mulai diisi oleh perempuan lain, muncul sebuah pesan dari Mawar yang meruntuhkan pertahannya selama ini. Hati Sitong bimbang, apakah memang telah move on dari Mawar atau hanya menjadikan Jess pelarian akibat kekosongan hati ini.

"Tapi, saya juga belum menemukan jawaban kenapa Sutan Pane menghilang, berhenti menulis, Pak? Analisis itu belum komplet."
(halaman 275)

Tak hanya hati yang terus mencari jawaban. Tapi penelitian Sitong mengenai Sutan Pane menemukan jalan buntu. Hanya sedikit orang yang mengenal Sutan Pane dan Sitong tak menemukan jawaban tentang mengapa Sutan Pane menghilang dan berhenti menulis.

Jual buku bajakan
"Jangan sok suci, Sitong. Kamu harus tahu, ribuan orang hidup dari buku bajakan itu. Slamet, keluarganya, Bahrun, Bekti. Ribuan. Mereka makan apa kalau tidak jualan buku bajakan? Kami justru menyediakan pekerjaan, nafkah bagu mereka. Kamu sendiri bisa kuliah gara-gara itu......"
(halaman 265)

Ditengah semua kerumitan hidup tersebut, masih ada masalah lain terkait buku bajakan milik paman dan bibinya. Urusan uang keamanan yang naik lebih tinggi akibat keuntungan berkali-kali lipat sejak berjualan di toko online. Dalam hati kecil Sitong ingin berhenti membantu usaha tersebut, tapi suara hatinya mengatakan jika lewat usaha itulah Sitong bisa berkuliah.

Jadi, siapakah yang Sitong pilih? Jess atau Mawar? Akankah Sitong mendapatkan benang merah tentang Sutan Pane? Dan bisakah Sitong terlepas dari jerat dunia pembajakan? Jika penasaran bisa baca selengkapnya di "Selamat Tinggal".

Review

Selamat Tinggal mungkin muncul dari keresahan para penulis dan juga pembuat karya lain, dimana sejak pandemi muncul banyak softfile buku yang dibagikan secara cuma-cuma melalui wa. Mungkin hal tersebut menjadi angin segar bagi para penikmat buku, kapan lagi si bisa baca buku gratis? Tapi bagi yang melahirkan karya tersebut, itu mungkin salah satu mimpi buruk.

Pernah melakukan pembajakan? Jujur sajalah, aku pun pernah. Mungkin masih melakukannya hingga saat ini. Tak mudah terlepas dari candu jika bisa mendapatkan lebih murah atau bahkan gratis kenapa harus mengeluarkan budget lebih? Salah satu hal yang mungkin harus diubah dengan membaca novel ini.

Cerita yang Diangkat

Novel ini bercerita tentang seseorang yang "terpaksa" memasuki dunia pembajakan buku, hatinya berkata ingin berhenti sejak awal tapi apa daya mulut itu tak bisa bersuara dan keadaan memaksanya bertahan. Apakah pernah merasakannya? Terjebak pada suatu kondisi yang kita tahu salah tapi tak mudah untuk berhenti? Mungkin itu yang Sitong rasakan. 

"...Aku benci sekali pada diriku. Tapi apa yang terjadi kemudian? Aku tetap menjual buku-buku bajakan itu. Aku tidak berani melawan pamanku, aku tdak daya bicara dengan bulikku. Takut kuliahku berantakan, takut mengecewakan Inang dan Bapak."
(halaman 320)

Bahkan Jess dan Bunga pun ternyata mengalami hal yang sama, hidup dari keluarga yang melakukan pemalsuan sebuah produk. Mereka tahu itu salah dan membenci keluarganya. Tapi apa daya, tak mudah mengubah semua hal yang salah dalam satu malam. Hanya biar terdiam dan membenci diri kenapa tak bisa menghentikan semua kepalsuan itu. Dan alasan Mawar dipenjara pun sama, terlibat dalam pemalsuan produk tapi hanya dirinya yang disalahkan oleh banyak orang. 

".....Mereka sama-sama dari keluarga pembajak. Jess benci orang tuanya, pemilik J&J Collections yang menjual produk KW, tiruan, menjiplak. Bunga, lebih-lebih amat benci keluarganya......"
(halaman 317)

"Mawar menggeleng lagi. Semua aman, kecuali dia yang dikorbankan. Sindikat obat palsu itu pintar sekali memutus rantai bisnisnya saat ketahuan."
(halaman 251)

Mungkin kita semua adalah Sitong, Jess, Bunga, ataupun Mawar. Terjebak pada kondisi yang kita tahu salah tapi tak bisa menghentikan semua kekeliruan itu. Menurutku lebih baik menjadi mereka dibandingkan menjadi Binsar, Bulik Ningrum, Paklik Maman, Orang Tua Jess dan Bunga, ataupun orang-orang yang menjadi dalang pembajakan tanpa memiliki hati nurani.

Ciri Khas Tulisan Tere Liye

Sebagai seorang yang cukup gemar membaca tulisan Tere Liye, pastinya akan menyadari ciri khas di setiap tulisannya. Ciri khas yang dapat ditemukan dihampir semua tulisannya.

1. Menggunakan Alur Campuran

Seperti ciri khas tulisan Tere Liye, "Selamat Tinggal" menggunakan alur campuran. Dengan alur maju yang dominan dari awal hingga akhir dan alur mundur akan muncul di tengah-tengah cerita. Alur mundur itu sebagai benang merah cerita ketika akan menjawab sebuah alasan tentang kejadian di masa lampau. Tak jarang alur mundur juga digunakan untuk menceritakan kejadian masa lalu yang berkaitan dengan masa sekarang.

"Kembali ke masa sekarang."
(halaman 47)

"Tahun 1960-an, Darman muda baru berusia delapan belas tahun, remaja."
(halaman 82)

2. Tokoh dan kesesuai dengan sejarah

Ciri khas, cerita Tere Liye lainnya adalah menambahkan cerita dan tokoh-tokoh yang ada di catatan sejarah. Walaupun fiksi, adanya beberapa tokoh dan kesesuai sejarah membuat cerita Tere Liye selalu lebih hidup dan aku tergoda untuk mencari kebenarannya di internet. Dari tulisan tersebut aku belajar jika penulis tak hanya perlu mengetahui PUEBI tapi juga harus berwawasan luas agar tulisan lebih hidup.

"....Tahun 1965, persis sebelum pemberontakan PKI, dia menghilang begitu saja......."
(halaman 80)

"Soekarno. Bu Hardja tertawa sampai badannya bergoyang."
(halaman 141)

3. Tokoh Utama Orang Biasa

Sitong sebagai tokoh utama hanya orang biasa, bukan lahir dari keluarga kaya raya. Bahkan terpaksa terjun ke dunia buku bajakan. Walaupun hanya orang biasa, Sitong memiliki bakat menulis yang luar biasa. Tulisan-tulisannya dimuat di koran dan orang-orang tak mengetahui jika tulisan yang bagus tersebut hanya ditulis oleh Sitong sang penjaga buku bajakan.

Suasana di kereta
"Pojok gerbong KRL itu dipenuhi diskusi kecil, anggukan, sesekali tawa antar pengunjung, membahas tulisan Sitong, tanpa mereka mengetahui sedikit pun bahwa sang penulis sedang duduk di antara mereka."
(halaman 221)

4. Bumbu Percintaan

Adanya bumbu percintaan dalam cerita "Selamat Tinggal" membuat cerita lebih terasa nyata. Ada kalanya hidup tak bisa lepas dari yang nama percintaan, entah jatuh cinta atau patah hati, seperti yang Sitong rasakan. Jatuh cinta, patah hati, atau bahkan tak bisa melupakan cinta pertamanya. 

"......Hendak tidur. Memejamkan mata, malah terbayang wajah Mawar Terang Bintang......"
(Halaman 237)

Jadi tertarik membaca novel Selamat Tinggal? Untuk kalian yang merasa tak bermasalah dengan bajakan mungkin butuh obat dengan membaca ini! Kabar-kabar aja jika tertarik bisa beli ke aku, dijamin ORI bukan buku bajakan atau KW super.

Rating 4,7 👍


Zakia Widayanti
Seorang yang mengaku introver dan menjadikan tulisan sebagai jalan ninja agar tetap waras. Tulisan adalah caraku menyampaikan keresahan dan kegelisahan. Terkadang semakin banyak menulis bisa jadi tanda jika aku sedang galau atau sedih atau mungkin banyak deadline :)

Related Posts

44 komentar

  1. Tere liye memang luar biasa, temanya tak jauh dari kehidupan sehari-hari, termasuk pembajakan buku di 'selamat tinggal' ini.
    Novel keren di review dengan tak kalah kerennya... mantul

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pak, temanya padahal gak jauh dari kehidupan sehari-hari tapi dikemas dengan tulisan yang bagus

      Hapus
  2. Review nya lengkap sekali Kak. Bahkan disertai dengan kutipan tulisan dan halamannya. Aku belum pernah sekali pun baca novel karya Tere Liye. Walaupun banyak yang bilang kalau hasil karyanya bagus-bagus. Entah kenapa masih ngerasa belum ingin membacanya dan ada kesan tulisannya itu "berat".

    Baca review dari Kak Zakia, jadi punya gambaran bagaimana cerita yang dituliskan oleh Tere Liye. Makasih reviewnya kaaak 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal termasuk ringan kak, nggak terlalu berat novel yang ditulis Tere Liye

      Hapus
  3. Suka banget sama gaya penyampaiannya ♡♡♡

    Eh pernyataan "bukan bacaan buat si Galau" kok jleb banget ya? Hehehe

    Susses terus, Kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu ada kak pas lagi promosi buku muncul tulisan "bukan untuk yang patah hati atau apa gitu", jadi kan bikin penasaran hehe

      Hapus
  4. Ciri khas tere liye ya, alurnya campuran . Keren sih emang tema yg diangkat ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, temanya pas banget lagi maraknya pembajakan dimana-mana

      Hapus
  5. tuh kan tuh kan, bikin mupeng pengen baca iih

    BalasHapus
  6. Makasih reviewnya kak, sukses selaluuu...

    BalasHapus
  7. Udah baca aja mba. Aku juga pengen beli, tali pas liat tumpukan buku yang belum dibaca, aku jadi mengurungkan niat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemarin beli sekalian sama teman. Dia order gitu jadi ya udah sekalian deh beli hehe

      Hapus
  8. Buku-buku Tere Liye itu nggak pernah nggak menyentuh hati banget deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, aku juga suka. Kaya meninggalkan kesan gimana gitu

      Hapus
  9. Awalnya ku kira perpisahan hehehe
    Tere Liye penulis yg gencar mengkritik pembajak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya aku juga, judulnya bikin orang berpikir ini novel tentang perpisahan.

      Hapus
  10. Tere Liye memang diakui.
    Review kak Zakia juga tak kalah keren lho.
    Haih jadi mau bukunya.
    Masukan ke wish list ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kak, wajib banget si buat baca ini

      Hapus
  11. Anak-anaku pengemar Tere Liye. Bahkan si 10 tahun sudah tuntas baca serial anak mamak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah, aku dulu umur segitu paling baca buku yang tipis mba. Belum sanggup baca novel segini hehe

      Hapus
  12. Tere Liye memang sering memberikan edukasi tentang bagaimana cara mengapresiasi karya orang lain. Terutama pada para penulis dan pembuat film.
    Sudah cukup lama ga baca novel2 Bang Tere. Dari karya satu ini jadi pengen lagiii.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo mba baca lagi hehe
      aku termasuk ngikutin tere liye dan masukin ke list bacaan wajib

      Hapus
  13. Ahh aku jadi pinisirin.. Mungkin sitong tidak memilih keduanya, jess ataupun Mawar. Mungkin ada tokoh lain ga sih? Bang Tere emang paling pinter bikin hatiku bertanya-tanya.. Yang lebih pinter lagi mbak Zakia mendeskripsikannya, aku pengenn bukunyaaa

    BalasHapus
  14. Keren mba reviewnya. Kalau beli buku bekas gpp kan ya:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau bekas ori gpp mba, lumayan mengurangi sampah :)

      Hapus
  15. Bener banget mba. Aku juga pernah hampir dapet soft file dari file buku bajakan. Sedih banget ya masih banyak bertebaran emang buku bajakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih mba banyak banget yang share gini, tapi di lingkunganku aku nggak menemukan si. Alhamdulillah

      Hapus
  16. Aku belum pernah baca buku Tere Liye ini. Setelah baca review buku Zakia jadi tertarik buat baca juga nih.

    Sewaktu masih langganan Gramedia Digital, sudah banyak mendownload di library untuk reading list. Eh tetap nggak kebaca juga.

    Kayaknya saya mau beli satu bukunya, mungkin dengan begitu bisa terbaca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku nggak pernah langganan buku digital si mba, maklum lebih suka baca buku fisiknya hehe

      Tapi buku tereliye menurutku bagus-bagus dan layak dibaca mba :)

      Hapus
  17. Masyaa Allah mbak zakia, tulisan di blognya selalu keren. Tulisan tentang review novel ini salah satunya. Aku belum pernah baca novel karya Tere Liye, membaca tulisan review ini. Jadi tertarik pengen baca. Hehehe. Betul sekali di masa pandemi seperti sekarang ini, banyak sekali soft file buku yang aku terima melalui WA, tapi aku gak pernah membacanya. Karena lebih nyaman membaca bukunya langsung, daripada membaca soft filenya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba beda rasanya kalau baca buku fisik sama softfile.

      Hapus
  18. Masya Allah, review novel yang sangat keren! Saya jadi tertarik baca juga, nih. Maklum, gak terlalu suka baca novel TL sih gak tau kenapa, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya suka um soalnya banyak pesan moral yang diambil dan tidak jauh dari kehidupan sehari-hari.

      Hapus
  19. Kereen reviewnya mbaa, novel tereliye emang kadang tokoh dan backgroundnya anti mainstream ya, tapi tetep bisa dibawakan dgn baik, menarik, dan penuh moral value.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, padahal ide ceritanya simpel tapi hasilnya luar biasa

      Hapus
  20. Duh mba agak jleb juga nih ya, kdg suka auto download2 gitu sukanya ya 😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya nih, masih PR banget buat nggak download-download sembarangan mba

      Hapus
  21. Halo mba sebelumnya salam kenal ya~ reviewnya bagus banget! Kalimatnya mengalir. Tadinya saya punya asumsi kalau novel Selamat Tinggal nya Tere Liye adalah cerita fiksi romance tapi ternyata bukan itu ya mba cerita utamanya. Menarik sekali premisnya , sepertinya pengalaman Sitong diatas sedikit mirip dengan saya waktu kuliah dulu 😅, berkat ulasan dari mba Zakia, kayaknya bisa dijadikan wishlist saya nih hehe. Terima kasih ya mba ulasannya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga kak!

      Kayaknya semua yang baca judulnya akan berekspektasi itu cerita fiksi romance kak, tapi isu utama yang diangkat bukan itu. Walaupun ada bumbu-bumbu soal percintaan si hehe

      Hapus
  22. Jadi pengen baca Mbak! Makasih buat reviewnya Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sama-sama kak, semoga bisa mendapatkan pengalaman yang berbeda ya kak kalau baca bukunya sendiri :)

      Hapus

Posting Komentar