Jejak Tulisan Kaki Kecil

Cerita Misteri: Luka, Bagian Tiga

Konten [Tampil]
Rania kembali bertemu dengan perempuan yang dipanggil ibu. Perempuan itulah yang mengasuhkan ketika tinggal di Lombok sewaktu kecil bersama Riana.

Bagian Tiga: Teman Baru Rania

Sejak pertemuan Rania dan ibu, Rania pun memutuskan untuk menetap di Lombok. Latar belakang Rania yang menekuni bidang pendidikan pun dijalani untuk mengajar anak-anak yang terlantar. Banyaknya anak yang lebih memilih untuk bekerja dibandingkan untuk menuntut ilmu.

Tujuan Rania mengajar pada anak-anak jalanan membuat Rania menemukan sebuah teman baru. Teman yang menjadi orang tua pengganti bagi anak-anak jalanan. Apalagi anak-anak tersebut adalah korban gempa yang kehilangan orang tuanya.

"Kinan?" Panggilku pada teman baruku.

Perempuan berhati bidadari dibalik ketidak sempurnaannya. Pertama bertemu memang aku sempat takut dan memandangnya rendah. Wajahnya yang meninggalkan gores luka akibat kecelakaan yang terjadi waktu kecil. Keterbatasan biasa tentu membuat Kinan membiarkan saja seolah tanda kejamnya kehidupan ketika kecil.

"Hai, Rania. Anak-anak sudah menunggu sejak tadi. Mereka kangen denganmu," kata Kinan kepadaku.

"Maaf ya, aku telat datang ke sini. Tadi aku bantu ibu panti dulu. Ada beberapa anak yang akan diadopsi," kataku menjelaskan pada Kinan.

Mengajar membuatku kembali menemukan kehidupan baru di Lombok. Apalagi melihat kecerian anak-anak ini. Mengingatkan aku pada masa kecil. Hidup tanpa pernah mengenal orang tua tentunya cukup berat. Anak-anak ini pun hampir sama denganku.


Luka masa kecil itu membuatku tak ingin anak-anak ingin mengulang kejadian itu. Aku ingin mengisi kekosongan mereka. Mengobati trauma itu agar kehidupan anak-anak ini bisa lebih dari diriku.


Beberapa bulan mengenal Kinan dan anak-anak itu aku pernah mendiskusikan dengan ibu panti. Aku ingin mereka jadi bagian dari panti. Melihat kehidupan mereka yang sering berpindah dan menghindari petugas tentu membuatku sedih. Namun aku belum sempat mengatakan semuanya kepada Kinan.

"Bu, kalau aku ajak Kinan dan anak-anak ke sini gimana?" tanyaku pada ibu panti.

"Selama mereka mau, ibu tidak keberatan. Lagi pula banyak anak panti yang sudah diadopsi sehingga panti lebih sepi," kata ibu panti kepadaku.

"Nanti aku coba bicarakan dulu pada Kinan ya bu. Aku harap dia setuju dan mau tinggal di sini," kataku lagi pada ibu panti.

"Ibu harap juga begitu. Apalagi banyak orang tua yang mencari anak adopsi. Siapa tau anak-anak jalanan itu mau untuk diadopsi agar bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak," kata ibu panti lagi.

Walaupun aku tak pernah menyukai tentang adopsi itu tetapi aku tak pernah melarang. Aku lihat, banyak orang yang mengadopsi dengan legal sekarang ini. Tak semudah jaman dulu untuk melakukan adopsi. Banyak prosedure yang harus dilakukan hingga akhirnya bisa mengadopsi anak.

Hari ini, aku memutuskan untuk mengatakan maksud baikku dan ibu pada pada Kinan.

"Kinan, boleh aku bicara berdua denganmu?" tanyaku pada Kinan ketika anak-anak sudah selesai belajar.

"Serius amat kamu Rania, ada hal penting yang perlu disampaikan?" tanya Kinan kepadaku.

Aku mencoba pelan-pelan mengatakan maksudku pada Kinan.

"Hmmm. . . Kalau berkenan, aku ingin kamu dan anak-anak tinggal di panti bersamaku. Daripada kalian harus berpindah dan bersembunyi selalu dari para petugas," kataku akhirnya pada Kinan.

"Panti? Apa semua tujuan ini untuk adopsi?" tanya Kinan kepadaku dengan mimik muka yang telah berubah.

Aku merasakan hal yang tak nyaman hingga tak bisa membalas pertanyaan Kinan itu.
Zakia Widayanti
Seorang yang mengaku introver dan menjadikan tulisan sebagai jalan ninja agar tetap waras. Tulisan adalah caraku menyampaikan keresahan dan kegelisahan. Terkadang semakin banyak menulis bisa jadi tanda jika aku sedang galau atau sedih atau mungkin banyak deadline :)

Related Posts

Posting Komentar