Jejak Tulisan Kaki Kecil

Cerita Misteri: Luka, Bagian Satu: Mimpi Masa Lalu

4 komentar
Konten [Tampil]
Orang-orang berlari panik membawa ember menuju bangunan yang terlihat memerah di kegelapan malam. Malam yang menjadi benderang seolah matahari ada begitu dekat. Kaki kecilku ikut melangkahkan kaki menuju bangunan itu.
"Tolooong . . . ." Aku mendengar sayup-sayup suara dari dalam bangunan.

"Selamatkan ak . ." Belum sempat menyelesaikan ucapannya. Suara itu menghilang ditengah jilatan api. Tak ada yang berani mendekat dan masuk untuk mencari sumber suara itu hingga api telah melahap habis bangunan yang terbuat dari kayu itu berserta isi di dalamnya.

Bulir keringat meluncur dari dahiku. Aku terbangun dari mimpi yang terus menghantuiku sejak belasan tahun. Kejadian yang merenggut jiwa kembaranku. Bahkan jasadnya tak pernah ditemukan di sisa-sisa puing dan abu bangunan itu.

Belasan tahun aku selalu berharap akan ada kabar baik tentang keberadaan kembaranku itu. Namun, kabar itu tak pernah datang seolah telah terkubur bersama abu kebakaran itu.

***

Hari ini aku memutuskan kembali ke pulau itu. Tempat di mana semua kisah ini dimulai. Setelah merantau lama di ibu kota yang aku pikir bisa melepaskan mimpi itu, ternyata mimpi itu tetap melekat kuat dalam bayangan.

Pulau-pulau kecil mulai terlihat dari jendela pesawat. Aku akan kembali menjejakkan kakiku di tanah kelahiran itu. Tempat yang penuh dengan kenangan menyakitkan. Namun aku telah menata hatiku agar tetap kuat melangkahkan kaki kembali ke pulau itu. Keputusan yang aku buat setelah mendapat pesan dari seseorang.

Terdengar pengumuman jika sebentar lagi pesawat akan tiba di Bandara Internasional Lombok. Pulau yang sebenarnya indah tetapi kenangan menyakitkan telah membutakan mataku.

Aku masih harus menempuh pejalanan tiga hingga empat jam menuju lokasi yang akan dituju. Melewati jalan yang berkelok dengan pemandangan gunung dan laut yang berpadu keindahannya. Akan membuat mata tak lepas melihat keserasian ciptaan Tuhan itu.

Sayangnya pemandangan itu tak menarik hatiku. Pikiranku masih melayang ke kejadian belasan tahun yang lalu. Rasa sakit membuatku melewatkan semua keindahan yang seharusnya aku nikmati sepanjang perjalanan.

Lamunanku terhenti ketika tiba di depan tanah kosong. Tempat di mana bangunan yang sebelas tahun lalu dimakan oleh api yang sangat besar. Gempa lombok tiga tahun lalu membuat semuanya samar. Aku tak bisa menemukan secara pasti lokasi tempat bangunan itu dulu berdiri. Bercampur baur dengan reruntuhan gempa yang dibiarkan oleh para penghuninya begitu saja.

Hatiku bergetar mengingat mendiang kembaranku itu. Harapan dirinya masih hidup sudah aku kubur dalam-dalam. Aku tak ingin dirinya bersedih melihatku terus memupuk harapan kosong itu.

Aku yang terhanyut perasaan hingga menitikan air mata itu, tak sadar ada seseorang yang memperhatikan diriku sejak aku turun dari mobil. Sosok itu mendekatiku perlahan seolah tak ingin menganggu.

Setelah tepat berdiri di belakangku, sosok itu memanggilku dengan ragu, "Rania?"

Aku menolehkan badanku ke belakang. Melihat sosok itu tubuhku langsung lemas dan terjatuh. Sayup-sayup aku dengar sosok itu memanggil namaku kembali. Mencoba menyadarkanku tetapi gagal. Aku kehilangan kesadaran seutuhnya di tempat ini persis seperti kejadian belasan tahun lalu. Ketika aku menyadari kebaran itu berasal dari rumah tempat kembaranku di adopsi.

Melihat langsung kebakaran dan mengetahui jasadnya tak ditemukan tentu menimbulkan luka tersendiri bagiku. Luka yang tak akan pernah sembuh bahkan selalu timbul luka baru yang lebih lebar dan dalam dari sebelumnya.
Zakia Widayanti
Seorang yang mengaku introver dan menjadikan tulisan sebagai jalan ninja agar tetap waras. Tulisan adalah caraku menyampaikan keresahan dan kegelisahan. Terkadang semakin banyak menulis bisa jadi tanda jika aku sedang galau atau sedih atau mungkin banyak deadline :)

Related Posts

4 komentar

Posting Komentar