Jejak Tulisan Kaki Kecil

Support System dan Keadilan Bagi Penyintas Kekerasan Seksual

11 komentar
Penyintas Kekerasan Seksual
Apa pandangan kalian tentang penyintas kekerasan seksual? Salahkan dia? Nggak salah sayangnya masih ada tambahan tetapi? Atau merasa kasian dan berempati? Memang hak kita untuk menilai seseorang, tapi ada hak dia untuk tidak mendapatkan padangan buruk dari masyarakat. 

Pada kesempatan kali ini, si Kaki Kecil ingin membagikan apa yang aku dapatkan dari kulzoom terkait penyintas kekerasan seksual. Kulzoom ini diadakan oleh indonesia content creator yang bekerja sama dengan mubadalah dan bonnel. Sebuah sharing bagi peserta ODOP yang amat sangat singkat waktunya. Padahal udah hampir dua jam, tapi rasanya kok kurang.

Siapa si Muyassarotul Hafidzoh?

Muyassarotul Hafidzoh ternyata adalah seorang penulis novel Hilda dan Cinta dalam Mimpi. Mba Muyas begitu panggilannya. Seorang istri dan juga ibu dari tiga orang anak. Awalnya aku tak mengenal siapa Mba Muyas itu. Bahkan judul novelnya pun aku baru pernah mendengarnya. Tetapi cara penyampaian Mba Muyas cukup membekas dalam ingatan.
Muyassarotul Hafidzoh
Sebuah kisah fiksi dibagikan oleh Mba Muyas dan kami para peserta diminta untuk menuliskan satu kata. Gila, ironis, ha, what, lalu, beneran dan banyak kata lain yang bermunculan di kolom chat zoom. Memang cerita fiksi tentang apa si?

Pada tahun 2018 Direktur Utama PT Pertamina (Persero) berkunjung di salah satu Kabupaten di Indonesia untuk acara penting bupati tersebut. Direktur Utama tersebut meminta bupatinya untuk memberikan izin istrinya supaya bisa menemaninya menginap di hotel. Bupati itu tidak bisa menolak permintaan direktur utama Pertamina. Akhirnya Dirut dan istri bupati menginap bersama di kamar hotel.

Menurut kalian? Apa yang ada dibenak kalian ketika selesai membacanya? Apakah sama seperti kami yang mayoritas terkaget-kaget. Walaupun Mba Muyas tak menyalahkan dan membenarkan jawaban kami. Tapi beliau mengatakan, padahal kita tak tahu direkturnya perempuan atau bukan, atau hal-hal lain yang tidak dituliskan pada cerita tersebut.

Penyintas Kekerasan Seksual

Judul asli dari kulzoom sebenarnya adalah peran keluarga sebagai support sistem penyintas kekerasan seksual, tetapi aku merasa penjelasan Mba Muyas lebih menekankan ke support sistem dan keadilan. Kenapa? Jika seorang perempuan menjadi korban kekerasan seksual sering kali merasakan ketidakadilan? Memang apa aja si ketidakadilan yang menimpanya?

1. Marginalisasi

Perlakukan dengan meminggirkan seseorang bisa karena jenis kelamin yang kadang terjadi. Sehingga ada anggapan ketika seorang perempuan melakukan suatu profesi tertentu dianggap tidak cocok. Apalagi jika jabatan tersebut dianggap terlalu tinggi dan laki-laki merasa tersingkir dan direndahkan.

Selain itu, munculnya kesenjangan ketika perempuan hamil atau melahirkan dan izin tidak masuk kerja, maka muncul ancaman potong gaji ataupun pemutusan hubungan kerja. Walaupun tidak semua kejadian tersebut terjadi, tetapi terkadang masih adanya kasus-kasus tersebut. Membuat perempuan dipinggirkan akibat kurang pemahaman seksualitas.

2. Subordinasi

Ketidakadilan subordinasi hampir mirip dengan marginalisasi. Dimana suatu posisi tertentu lebih diprioritaskan untuk laki-laki dibanding perempuan, padahal memiliki kapabilitas yang sama. 

Dalam bekerja, kemampuan tidak dinilai dari jenis kelamin tetapi kapasitas dan kesanggupan seseorang untuk menanggung beban. Sehingga baik laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam berbagai bidang, politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan karier.

3. Kekerasan

Kekerasan pada perempuan terkadang tak bisa dihindarkan, apalagi jika perilaku kasar bukan lagi subjek tapi objek wajar yang dijadikan pelampiasan. Masih adanya kasus kekerasan yang terjadi pada perempuan karena dianggap wajar jika perempuan membatah melakukan sesuatu. 

Jika melawan dan mengadukan hal tersebut, maka perempuan dianggap berdusta, mencemarkan nama baik, atau hanya mencari sensasi. Maka banyak korban kekerasan yang akhirnya bungkam dan membuat hal tersebut semakin dianggap wajar.

4. Stereotype

Adanya stigma atau label pada suatu gender. Jika perempuan harus bekerja di ranah domestik dan laki-laki di sektor publik. Padahal bisa saja dalam satu keluarga saling membantu sama lain, sehingga tidak mengkotak-kotaknya suatu pekerjaan berdasarkan gender.

Selain itu, anggapan laki-laki cengeng atau lemah ketika menangis. Padahal menangis adalah suatu ungkapan emosi, wajar jika menangis. Jika rasa sedih tak diungkapkan dengan cara menangis, lalu dengan cara apa lagi?

5. Beban ganda

Seorang perempuan yang menjadi ibu karier maka harus pula mengurus urusan domestik sendiri. Jika sanggup mungkin tak apa. Tapi apa salahnya seorang suami membantu istrinya, bahkan diperbolehnya mendelegasikan kepada orang lain. Dengan begitu maka perempuan tak terlalu menanggung beban ganda.

Ketidakadilan yang ditemukan tersebut membuat seorang perempuan butuh support sistem jika menjadi korban kekerasan seksual. Lalu apa si yang bisa kita lakukan?
  • Melindungi korban sehingga tidak merasakan ketidakadilan
  • Mendukung bangkitnya korban, agar tak terus terpuruk pada masa lalu yang kelam
  • Melakukan tindakan hukum dengan bantuan dari LBH yang mendukung
  • Membantu mengobati luka fisik dan psikis korban agar bisa lebih baik
  • Mendampingi korban hingga pulih kembali dan menjalani hidup yang lebih baik

Kasus yang Terjadi di Sekitar Kita

Tak hanya materi yang mungkin membuka sudut pandang kita tentang penyintas kekerasan seksual, tetapi Mba Muyas juga membuka sesi tanya jawab. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul pun masih terkait kasus-kasus yang sangat mungkin terjadi di sekitar kita.

1. Tentang Aurat

Munculnya sebuah pertanyaan ketika terjadi kasus pelecehan seksual, mungkin pakaiannya yang terlalu terbuka menjadi penyebab. Memang hak perempuan untuk memakai apa saja, tapi bukan hak orang lain untuk menghakimi. Jikapun ingin menasihati dan menganggapnya itu salah, sebaiknya tak melontarkan kata-kata, "salah kamu si pakai kaya gitu", "ngapain si ngundang jadi korban kekerasan seksual", dan ungkapan-ungkapan menyalahkan lain. Baiknya nasihati dengan baik agar korban lebih sadar untuk menjaga auratnya.

2. Bedakan Korban dan Seks Bebas

Ketika korban melaporkan setelah kejadian pelecehan seksual, maka akan timbul komentar, "kamu juga enak kan?, "kok nggak ngelawan si?", atau pertanyaan tentang tindakannya. Padahal ketika menjadi korban, kita bisa saja menjadi tidak berdaya walaupun ingin melawan. Hal tersebut terjadi akibat respon bawaan alam sadar ketika orang merasakan sangat takut. Seperti jika kita melihat hal ghaib ataupun akan mengalami kecelakaan, terkadang alam bawah sadar hanya bisa terdiam tak berdaya.

3. Pelaku Orang Terdekat

Sering kali pelaku kekerasans seksual itu bukan dari orang luar, tetapi malah orang terdekat. Tak jarang ada berita tentang ayah melakukannya pada anak sehingga anak tak tahu harus mengadu pada siapa. Ataupun cerita dari Mba Muyas, ketika seorang perempuan dilecehkan oleh kerabatnya dan mengadu pada orang tua, apa responnya? Perempuan tersebut dianggap berbohong bahkan ketika beberapa kali bercerita maka orang tua menghukum sang anak. Jika orang tua tak percaya dengan perkataan anak, maka anak harus mengadu pada siapa?

4. Korban Menikah dengan Pelaku

Pernahkan memahami perasaan korban, apa si yang ada dipikirannya jika harus menikah dengan pelaku? Atau orang tua mereka apa rela anaknya menikah dengan pelaku? Atau hanya akibat desakan orang-orang? Nanti jika tak menikah dengan pelaku, siapa yang mau? Nanti anaknya nggak punya bapak? Apa nggak mau hamil tanpa suami? Atau pembenaran-pembenaran lain.

Korban seharusnya tak harus menikah dengan pelaku, bisa jadi akan menimbulkan trauma. Apalagi jika sifat pelaku tak berubah. Padahal dalam islam pun, ketika terjadi kehamilan di luar nikah, anak akan ikut ibu bukan lagi ayah. Gugur sudah kewajiban ayah. Jadi apa bedanya menikah dan tidak setelah hamil? Hanya mengubah status menjadi suami istri, bukan status di surat kelahiran anak. 

Membahas tentang penyintas kekerasan seksual sejujurnya membuatku campur aduk perasaannya. Suatu pembahasan yang sangat jarang aku ikuti tetapi cukup membuat aku agar lebih melihat sesuatu dari berbagai sudut. Bukan hanya perpektifku yang subjektif tapi juga harus objektif. Jadi apakah seorang perempuan korban kekerasan perlu support sistem dan keadilan?
Zakia Widayanti
Seorang yang mengaku introver dan menjadikan tulisan sebagai jalan ninja agar tetap waras. Tulisan adalah caraku menyampaikan keresahan dan kegelisahan. Terkadang semakin banyak menulis bisa jadi tanda jika aku sedang galau atau sedih atau mungkin banyak deadline :)

Related Posts

11 komentar

  1. Semua memang masih terasa tersebar disekitar kita ya mba, tapi gitupun masih belum disahkan juga UU PKS, mau butuh berapa banyak korban lagi kalo gini ceritanya, huhu.. miris!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga orang lebih peduli lagi ya mba terkait kekerasan seksual, agar tak lagi memakan korban

      Hapus
  2. Makanya gemes ih soal UU PKS yang masih menggantung. Semesta kita memang masih sering memojokkan posisi perempuan, padahal sudah jelas2 menjadi korban. Semoga kita nggak menjadi salah satunya ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya semoga bisa terhindari dari hal buruk itu mba, aamiin :)

      Hapus
  3. Terkadang juga org org terdekat yg seharusnya menjaga, justru membuka jalan atau mungkin "membiarkan" pelaku

    Atau juga pihak pihak yg seharusnya memberikan kampanye ttg kekerasan,,, jarang menyentuh ke lapisan bawah ... Rata rata penyuluhan penyuluhan dilakukan di daerah perkotaan

    BalasHapus
  4. Support sistem dari pihak terdekat emang pentung ya, mbak? Apalagi jika pemahaman ttg isu ini sesuai proporsinya.

    Anyway, thanks tulisannya mbak. Membuka insight ku banget 🙏

    BalasHapus
  5. Pentingnya pendampingan bagi korban kekerasan seksual terutama dari keluarga dan orang terdekat, luka ini kadang menimbulkan trauma yang mendalam dan sulit dihilangkan. Pendekatan agama sepertinya yang paling baik untuk membantu mengurangi beban traumatic korban.

    BalasHapus
  6. Karena stigma negatif Dan kurangnya support sistem bisa jadi korban menyembunyikan perlakuan yg didapatnya.

    BalasHapus

  7. Saat ini, disekitar ada yang menjalani "menikah dgn pelaku" Hal ini malah membuat "yg lainnya" akan merasa aman karna akan ada options itu bila ketahuan. Astaghfirullah...
    Semoga kita & sodari2 kita selalu berada dlm lindungan Allah. Aamiin....

    BalasHapus
  8. Speechless...suka gereget klo ada case anak kandung jd korban ayah kandung
    Thx tulisannya🙏

    BalasHapus
  9. Penting juga mengedukasi kerabat dekat supaya bisa jadi support system yang kuat bagi mereka penyintas kekerasan seksual. Agar hal-hal yg tak diinginkan seperti yang dijabarkan di atas bisa dihindari. .

    BalasHapus

Posting Komentar