Jejak Tulisan Kaki Kecil

Kekhawatiran Ketika Pandemi: Aku Takut Kalau Kena Corona

Aku takut kalau kena corona
Aku takut kalau kena corona, mungkin jadi kekhawatiran banyak orang ketika pandemi. Katanya corona nggak berbahaya tapi banyak membawa dampak jika terkena. Apalagi berita-berita seolah menjadikan itu headlines. Bahkan di awal-awal banyak yang merasakan stress setiap kali melihat, membaca, atau bermain sosmed. Menjadikan kesehatan mentalnya tidak baik-baik saja.

Aku Takut Kalau Kena Corona

Sebuah obrolan di whatsapp grup membahas sebuah hasil tes rapid antigen. Foto yang menunjukkan hasil reaktif dan memiliki kemungkinan terkena SARS-COV-2. Memang belum pasti tapi menimbulkan segala ketakutan yang ada.

"Aku reaktif tapi belum yakin, soalnya pilek aja bisa jadi hasilnya reaktif. Besok mau tes lagi, doain ya!"

Gimana kalau nanti karantina

Ketakutan akan karantina dan tak bebas beraktivitas mungkin bikin orang nggak pengen terkena corona. Gimana enggak, karantina harus tinggal berhari-hari di sebuah ruangan kecil. Menunggu hasilnya negatif baru bisa keluar dan menghirup udara bebas.

Kalau karantina mandiri si memang menyenangkan. Tetapi banyak syarat yang harus dipenuhi. Apalagi tak semua rumah memadai untuk dijadikan tempat karantina mandiri. Bukannya memutus rantai penyebaran, jangan-jangan malah membuat penyebarannya meluas.

Karantina mandiri bikin galau takut nggak memenuhi syarat. Karantina di tempat yang ditentukan galau nanti gak bisa menghirup udara bebas. Apalagi sekedar melihat birunya langit.

Gimana kalau nanti nularin orang

Kita mungkin ketularan entah siapa, tapi apa tega kita ikut nularin secara sengaja? Ya kalau orang yang kita tularkan tak membawa penyakit bawaan. Kalau iya? Sungguh akan membuat lebih menderita. Sakit bawaan saja sudah membuat sering bolak-balik rumah sakit. Mengkonsumsi obat yang tak lagi terhitung jumlahnya. 

Corona mungkin tak akan terlalu berbahaya bagi orang yang kondisinya sehat dan imunnya kuat. Tetapi mereka tak bisa pilih-pilih mau menempel pada siapa. Enak si kalau bisa diprogram untuk siapa, kasih aja ke orang-orang jahat. 

Gimana kalau nanti nggak sembuh

Terkena penyakit biasa saja sudah bertanya-tanya kapan si sembuhnya? Apalagi kalau kena corona, pasti nanya mulu tiap detiknya. Seolah ingin terbebas dan bersih dari yang namanya corona.

Belum lagi pikiran jahat, "kalau nggak sembuh gimana?". Bukan hanya yang memiliki penyakit penyerta tapi orang yang sehat sekalipun pasti memiliki pikiran itu jika terkena corona. Belum ada obat yang pasti, hanya sekedar membantu imun agar lebih kuat dan tangguh membasmi virus di tubuh. 

Gimana kalau dianggap aib

Hal paling menyakitkan tuh jika terkena corona dianggap aib. Belum lagi dinyinyirin tetangga. Bukannya mendukung dan mendoakan agar sembuh, eh malah diomong. Lagi sakit badan tambah deh sakit hatinya. Sabar aja deh.

Entah mengapa ketika orang terkena corona akan menjadikannya aib. Banyak yang berujung menyembunyikannya, membuat lebih luas dari penyebarannya. Hanya karena takut dan tak kuat mendengar nyinyiran tetangga.

Aku taku kalau kena corona, salahkah? Apakah kalian pun merasakannya?
Zakia Widayanti
Seorang yang mengaku introver dan menjadikan tulisan sebagai jalan ninja agar tetap waras. Tulisan adalah caraku menyampaikan keresahan dan kegelisahan. Terkadang semakin banyak menulis bisa jadi tanda jika aku sedang galau atau sedih atau mungkin banyak deadline :)

Related Posts

Posting Komentar