Jejak Tulisan Kaki Kecil

Cerita Pendek: Kejutan di Hari Ulang Tahun

12 komentar
Kejutan di Hari Ulang Tahun
Siapa si yang tak menyukai kejutan di hari ulang tahun? Hampir kebanyakan orang menyukai dan menantikan hal tersebut. Walaupun mungkin ada yang membencinya dengan alasan tertentu. Tapi setiap hari ulang tahun pasti ada cerita tersendiri yang akan selalu menjadi kenangan.

Kejutan di Hari Ulang Tahun


29 Februari 1996, hari dimana aku mulai mengenal dunia. Jika orang lain akan sebal karena hanya bisa merayakannya 4 tahun sekali. Aku sangat bersyukur dengan itu. Aku benci ulang tahun. Aku benci diberi kejutan. Jika boleh memilih aku ingin tak pernah merayakan yang namanya ulang tahun.

"Eh, si anak kabisat lewat. Sedih banget ya tahun ini nggak bisa ngasih kejutan buat lo." Terdengar celotehan anak kantor kepadaku.

"Lagian Abi nggak suka juga dapat kejutan, jadi dia biasa aja," Bima ikut menimpali celetukan anak kantor.

Aku cuma diam dan melewati mereka begitu saja tanpa ikut berkomentar. Tapi samar aku bisa mendengar suara mereka yang menanyakan alasanku membenci ulang tahun pada Bima.

***

Umurku dan Bima 10 tahun saat itu. Aku dan Bima memang berteman sejak kecil. Berbeda denganku yang pendiam dan tak memiliki banyak teman. Bima bisa dengan mudahnya menemukan teman dimana saja. Hingga dia mengenalkanku pada Reno dan aku pun merasa nyaman dengannya.

Kami lalu dikenal dengan nama Tiga Sekawan. Kemana pun kami pergi akan selalu bertiga. Dan sangat menyenangkan saat itu. Bahkan kami selalu merayakan ulang tahun bertiga dengan kejutan yang berbeda setiap tahunnya.

Pertama kali akan merayakan ulang tahun Reno, aku dan Bima merencanakan sebuah kejutan yang tak akan dilupakan oleh Reno. Rumah kosong di ujung gang akan menjadi lokasinya. Aku dan Bima telah mengawasi rumah itu sejak lama, walaupun banyak orang dewasa yang melarang kami untuk mendekati rumah itu. Kami tak peduli dan tak takut dengan cerita hantu yang selalu menjadi alasan menjauhi rumah itu.

"Nanti malam ketemu di rumah kosong ujung gang ya!," ujarku pada Bima dan Reno.

Bima dan Reno pun mengangguk setuju.

Aku dan Bima datang lebih awal mempersiapkan semuanya. Membawa segala macam hal untuk membuat takut Reno tanpa Reno mengetahuinya.

Aku dan Bima mengendap-endap untuk memastikan tak ada orang yang mengetahui jika kami bermain di rumah kosong itu. Terlihat bangunan yang tak lagi nampak seperti rumah. Banyak bagian yang sudah berlubang sana sini. Bahkan tak lagi terlihat pintu ataupun jendela yang terpasang. Jika dari luar hanya tampak ilalang yang menutupinya. Jadi aman bagi kami untuk bermain di sana.

"Reno belum datang kan ya?" tanya Bima padaku.

Aku hanya menggeleng sembari tetap mempersiapkan kejutan untuk Reno.

"Bim, Bi, kalian di dalam?" terdengar suara Reno dari arah luar bangunan.

Aku dan Bima tak menjawab pertanyaan Reno. Hanya sibuk mencari tempat bersembunyi yang aman.

"Siapa di sana?" terdengar sahutan seseorang yang berdiri di belakang Reno.

Aku dan Abi tak bisa melihat dengan jelas dari tempat persembunyian kami. Hanya nampak sosok laki-laki yang cukup besar. Mungkin satpam yang berkeliling di lingkungan kami.

***

Napasku naik turun dan kepala terasa berat saat mendengar Bima bercerita tentang kejadian itu. Semua kenangan itu kembali muncul diingatan seolah ada yang menekan tombol. Aku masih ingat teriakan Reno yang membuat banyak warga berdatangan ke rumah kosong itu. Kami memang ketahuan dan itu menjadi kenangan yang tak terlupakan begitu saja bagi aku dan Bima.


Bau alkohol bercampur dengan anyirnya darah bahkan tercium dari tempat persembunyianku dan Bima saat itu. Laki-laki yang bahkan tak merasa bersalah setelah memotong leher Reno begitu saja bahkan tetap tenang mencabut pisau penuh darah. Berusaha melukai bagian tubuh Reno yang lain jika tak dicegah oleh warga. Bahkan tertawa penuh kemenangan saat melihat Reno kesakitan.

Tak ada yang bisa menyalahkan aku ataupun Bima karena usia kami yang masih termasuk anak-anak. Tapi potongan kejadian itu terus menghantui malam-malamku hingga saat ini. Jika aku mendengar larangan orang untuk tak bermain di sana. Atau jika aku memilih lokasi lain yang lebih aman mungkin Reno masih ada bersamaku dan Bima.

Dadaku terasa sesak. Bima menghampiriku saat melihatku kesakitan. Buru-buru mencari obat yang perlu aku minum. Beberapa pil menjadi temanku sejak saat itu hingga saat ini. Seolah menjadi pengganti Reno di sisiku.



Lomba Cerpen Ultah
Zakia Widayanti
Seorang yang mengaku introver dan menjadikan tulisan sebagai jalan ninja agar tetap waras. Tulisan adalah caraku menyampaikan keresahan dan kegelisahan. Terkadang semakin banyak menulis bisa jadi tanda jika aku sedang galau atau sedih atau mungkin banyak deadline :)

Related Posts

12 komentar

  1. Waah, lahirnya tanggal 29 Februari. Ulang tahunnya 4 tahun sekali dong.. :((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, spesial mah pokoknya kalau lahir 29 februari hehe

      Hapus
  2. Sesama kaum introvert, aku padamu mba ❤️

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe iya mba, tapi entah si beneran introvert atau ngaku-ngaku saja wk

      Hapus
  3. Aww akhir yang tragis, aku jadi kaget banget... Mau kasih kejutan malah terkejut. Keren Mba Zakia. Semangat menulis Cerpen yaa

    BalasHapus
  4. Masya Allah.... semangat nulis lagi Mbak.... ditunggu

    BalasHapus
  5. Duh, tragis banget endingnya. Pasti Abi trauma banget ya itu melihat sahabat sendiri meninggal di depan mata. Hiks.

    BalasHapus
  6. Ulang tahun 4 kali setahun... heheh umurnya masih kecil..

    BalasHapus
  7. MasyaaAllah...saya pikir cerita nyata :)
    semangat menulis ya say

    BalasHapus
  8. Mba, anti mainstream banget ceritanya. Tema ulang tahun tapi dikemas dalam genre horor. Aku jadi penasaran kenapa Bima dibunuh. Mau bikin episode 2 nya ga mba??

    BalasHapus
  9. Sempat was was eh bener aja akhirnya tragis, keren mba, semangat terus

    BalasHapus
  10. Awalnya aku kira cerita beneran tetang mba zakia hehe... Semangat Mba..

    BalasHapus

Posting Komentar