Jejak Tulisan Kaki Kecil

CERITA TENTANG BULLYING

Rasanya baru kemarin ramai #justiceforaudrey dan akupun sempat menulis hal tersebut di ig story. Waktu tau berita, rasanya membuatku mengingat kejadian jaman sekolah. Memang bukan aku yang jadi korban, tapi temenku dan pelakunya pun temenku sendiri. Sedih nggak si? Atau aku malah merasa jahat? Di saat ada orang yang diperlakukan tidak mengenakkan dan itu terjadi di depan matamu sendiri. Berasa kaya saksi mata. Bukannya nggak peduli, tapi berusaha untuk nggak tau. Terlalu takut untuk speak up karena pada akhirnya bisa berimbas pada diri sendiri. Dengan dalih, toh selama aku nggak terlibat dan mau nyari aman aja, jadi ya udah mending nggak usah ikut campur aja.

Kejadiannya emang udah lama si, beberapa tahun yang lalu. Tapi rasanya nggak bisa dilupakan begitu saja. Aku masih ingat jelas siapa pelakunya, siapa korbannya, dan apa yang terjadi di hari itu. Entah korban dan pelakunya masih inget apa enggak. Tapi aku merasa sedih rasanya dan sangaat merasa kalo aku jahat banget ternyata. Kenapa si dulu aku diem aja? Apa ya yang dulu dirasain korbannya? Dan apa pelakunya merasa bersalah? Padahal masalahnya cuma gegara cowok, tapi bisa segitu dendamnya.

Kejadian bullying sebenarnya bukan hal yang baru. Cuma dulu apa-apa nggak segampang sekarang buat viral. Bahkan temen deketku pernah jadi salah satu pelaku. Dan itu kejadian jaman dia SD. Aku tau gegara dia cerita. Dan dia ngebully rame-rame di suatu ruangan di sebelah ruang guru (kalo nggak salah inget). Ya mungkin terlalu sadis kalo ngomong dia pelaku, tapi dia diajak temennya buat "ngebully" temennya yang sebenarnya anak guru (kalo nggak salah juga, udah lama soalnya diceritainnya). Entah dengan alasan apa. 

Pada kenyataannya, pelaku pembully sebenarnya "bukan orang yang berani" karena pada setiap kejadian pembullyan pasti pelakunya rame-rame ngajak temennya. Kadang bahkan temennya malah nggak tau kenapa harus ikut ngebully, dengan dalih atas nama pertemanan. Padahal harusnya teman yang baik tuh nggak gitu, ya setidaknya dengar dulu permasalahannya dan coba nyari solusi pemecahannya. Jangan apa-apa main jalan gampang buat menyelesaikan masalah. 

Tulisan tentang kejadian bullying sebenarnya bukan berarti aku merasa benar atau tidak pernah melakukan. Secara sadar aku pun mengakui pernah, walaupun bukan bullying fisik hanya verbal. Jahat memang. Kejadian bullying kemarin, seharusnya menjadi pelajaran agar meminimalisir terjadinya bullying baik bullying di dunia nyata maupun dunia maya. Sadar atau tidak, perkembangan jaman membuat bullying tidak hanya terjadi secara real tapi di dunia maya juga ada. Jadi jangan terlalu menyalahkan apa yang dilakukan orang lain disaat diri sendiri aja masih melakukannya apalagi jejak digital tidak semudah itu hilang. 

Cyber bullying tuh sebenarnya banyak terjadi. Bahkan kadang membuat korbannya merasa tertekan atau cenderung stress. Rasanya tuh, komen-komen netijen terlalu kejam. Seharusnya sebelum komen dipelajari dulu apa yang terjadi, karena kadang apa yang dishare itu hanya sebagian kecil, nggak utuh. Kalo sesuatu yang viral pasti orang pengen ngeshare aja tuh, tanpa tau detail kejadiannya. Terus ngehujat kan ya? Emosi sesaat tanpa adanya pemikiran panjang. Itu yang kadang bikin aku dibilang, kok kamu tau ini tau itu tentang dia? Ngefans ya? Bukan, hanya kadang kalo lagi kepo sama kejadian viral atau sesuatau, bisa aku ubek-ubek beritanya lah, orang-orang yang ngebahas tentang dialah, atau malah muncul sendirinya sehingga aku tau berbagai perspektif yang nantinya akan menjadikan sebuah kesimpulan tersendiri untukku. Berasa fanatik banget ya? Ya udah lah ya. 

Bullying mungkin nggak akan bisa hilang begitu saja. Karena "kejahatan" akan selalu ada sebagai penyeimbang kebaikan. Kaya ada siang-malam, laki-laki-perempuan, tua-muda. Agar membentuk yin-yang. Agar menjadi pembelajaran atau pembanding apa itu jahat dan apa itu baik. Mungkin nggak perlu lah sampe bikin #stopbullying, tapi bagaimana kita mencoba untuk tidak menjadi pelaku bullying. Jadi setiap mau melakukan sesuatu yang berujung bullying, cobalah menempatkan diposisi korban. Bagaimana perasaannya dan dampak terhadap psikis kedepannya. Mungkin luka fisik akan sembuh seiring waktu, tapi luka psikis mungkin tidak akan sembuh selama hidup. Hanya akan ada penerimaan pada kejadian masa lalu dan mimpi-mimpi buruk yang mungkin menghantui. 
Zakia Widayanti
Seorang yang mengaku introver dan menjadikan tulisan sebagai jalan ninja agar tetap waras. Tulisan adalah caraku menyampaikan keresahan dan kegelisahan. Terkadang semakin banyak menulis bisa jadi tanda jika aku sedang galau atau sedih atau mungkin banyak deadline :)

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar