Jejak Tulisan Kaki Kecil

Kenapa PWK UNDIP ?

7 komentar
Konten [Tampil]
Tulisan ini sebenernya bukan tulisan baru. Sebelumnya pernah aku posting di blog yang sama, yang akhirnya aku rubah seperti ini. Rasanya sayang kalo tulisan ini di hapus, tapi rasanya terlalu alay untung di posting dengan semakin bertambahnya umurku. Mungkin akan banyak yang berubah tentang tulisan ini, dengan perspektif yang berbeda. Dulu aku menulis di saat masih menjadi mahasiswi semester awal dan sekarang sudah memiliki gelar tambahan di belakang namaku.

Jujur aku nggak tau harus mulai dari mana. Kalo dulu tulisan ini akan menjadi tulisan dengan berbagai alasan yang berujung kenapa aku akhirnya kuliah di PWK Undip. Aku bukan tipikal orang yang selalu tau keinginanku mau jadi apa. Terkadang aku tau, cuma malu mengungkapkan jadi berujung menjadi pengikut jalan terbanyak yang di pilih ataupun pilihan yang menurut kebanyakan orang itu yang paling bagus. Ya intinya aku lebih suka cari aman dengan mengikuti jalan yang akan dipilih kebanyakan orang tanpa berani mengungkapkan keinginanku bagaimana.

Aku masih mengingat tugas MOS waktu SMA tentang lifeplan 20 tahun ke depan (kalo nggak salah). Aku dulu nggak tau harus nulis apa. Akhirnya aku tulis aja mau jadi dokter karena dulu rasanya setiap bareng temenku kebanyakan mau jadi dokter. Entah itu halusinasiku saja atau emang tekanan dari orang-orang yang menginginkanku menjadi dokter. Tapi ya udah, lifeplanku hanya sekedar karangan belaka bukan sesuatu yang ingin aku wujudkan menjadi kenyataan, walaupun masih ada beberapa keinginan dalam lifeplan itu yang masih aku harapkan untuk terwujud karena mungkin keinginanku yang sebenarnya.

Semakin mendekati kelas 12, aku masih mulai mencari mau lanjut kemana. Nanya ke senior sana sini, tentang jurusan ini itu. Nyari di internet tentang segala jurusan. Nawarin jurusan ini itu ke ibuku, dari kehutanan, oceanografi, agribisnis, dan segala jurusan yang peminatnya sedikit atau jurusan tanpa ada embel-embel biologi maupun fisika. Keluar masuk ruang BK bahkan pernah nggak ikut pelajaran hanya sekedar nanya atau tes kecil-kecilan untuk menentukan jurusan yang sekiranya aku suka. Dari hasil tes, nanya senior, konsultasi sama ibu, akhirnya muncul dua nama jurusan dan dua nama univesitas. Statistika UGM dan PWK Undip (tapi dulu ini jadi nomor dua).

Di saat aku udah yakin dengan pilihanku. Ternyata ada seseorang yang berharap untuk aku tidak mengambil statistika UGM. Padahal nilaiku nggak bagus-bagus amat. Rangkingku di sekolah juga termasuk angka puluhan atau bahkan ratusan, aku lupa. Entah dengan segala pertimbangan apa, salah satunya mungkin yang kira-kira aku bisa masuk dengan mudah akhirnya aku memilih PWK Undip. Dulupun nggak berharap banyak untuk lolos, hanya iseng mungkin. Karena selalu ada plan B C D. Aku pun masih mencoba kesempatan mendaftar STIS juga. Daftar STIS juga nggak berharap banyak, hanya mencoba peluang saja, siapa tau lolos kan ya. Memang lolos si, cuma sampe tahap 1 aja. Dulu memang sempat bimbang gimana kalo STIS lolos juga disaat ternyata aku lolos PWK Undip. Ada seseorang yang bilang, nggak papa dicoba aja dulu. Kan kita nggak tau mana yang terbaik.

Memang pada akhirnya, aku nggak lolos STIS. Jadi mau nggak mau kuliah di Undip. Awalnya memang menyenangkan, tapi di tahun pertama sempat bimbang. Di saat ada beberapa teman yang mencoba peruntungan untuk tes SBMPTN. Ibuku pun sempat menawarkan untuk mencoba mendaftar lagi entah universitas lain ataupun kedinasan (lagi). Sempat hampir menyerah, tetapi pikirku dulu "kalo yang baru nanti ternyata lebih buruk gimana? kan nggak semudah itu untuk kembali lagi". Jadi aku paksa untuk bertahan. Menyesal? TIDAK. Karena ada banyak hal yang lebih perlu disyukuri. Aku jadi mengenal banyak temanku sekarang dan orang-orang yang mungkin tidak bisa aku temui jika aku tidak kuliah di Undip.
Zakia Widayanti
Seorang yang mengaku introver dan menjadikan tulisan sebagai jalan ninja agar tetap waras. Tulisan adalah caraku menyampaikan keresahan dan kegelisahan. Terkadang semakin banyak menulis bisa jadi tanda jika aku sedang galau atau sedih atau mungkin banyak deadline :)
Lebih baru Terlama

Related Posts

7 komentar

  1. mbak, minta ulasannya dong tentang planologi undip tuh kya gimana, baik dri segi kuliahnya, bangunannya, terserahdeh, yg penting ad hub.ny dengan planologi undip

    BalasHapus
  2. Ka boleh ceritain pertama jadi maba nya gmn? Apakah harus bisa menggambar? Sistem perkuliahannya ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk pwk nggak harus bisa gambar karena kita nggak dituntut bisa ngegambar jika di undip karena kebanyakan menggunakan software. Sistem kuliahnya sudah ditentukan berapa dan matkul apa yang diambil setiap semesternya jadi selama nilainya bagus dan nggak perlu ngulang. Lalu waktu itu, dari semester 1-7 kelas dan temen2nya sama terus kecuali kelas peminatan. Pertama kali maba mungkin bakal kaget untuk anak yang suka angka atau hitung2an karena lebih banyak belajar teori.

      Hapus
  3. Hai salam kenal, saudari satu mamater❤️

    BalasHapus
  4. Hai salam kenal, saudari satu almamater *typo hihi

    BalasHapus
  5. Wahhh dulu aku taruh UNDIP di pilihan kedua, sayang keterimanya di pilihan pertama. (Jadi yang aku taruh di pilihan pertama, bukan yang benar benar dimau .. emang aneh). Karena dulu janjian sama sahabat, jadinya kami beda kota deh.

    BalasHapus

Posting Komentar